Wednesday, 11 June 2014

Happiness - Mernissi

“Happiness, she would explain, was when a person felt good, light, creative, content, loving and loved, and free. An unhappy person felt as if there were barriers crushing her desires and the talents she had inside. A happy woman was one who could exercise all kinds of rights, from the right to move to the right to create, compete, and challenge, and at the same time could be loved for doing so. Part of happiness was to be loved by a man who enjoyed your strength and was proud of your talents. Happiness was also about the right to privacy, the right to retreat from the company of others and plunge into contemplative solitude. Or sit by yourself doing nothing for a whole day, and not give excuses or feel guilty about it either. Happiness was to be with loved ones, and yet still feel that you existed as a separate being, that ou were not just there to make them happy. Happiness was when there was a balance between what you gave and what you took.”  ― Fatema Mernissi, Dreams Of Trespass: Tales Of A Harem Girlhood

Tuesday, 27 May 2014

An eye for an aye

Bagian terberat ketika kita merasa orang lain berbuat tidak baik kepada kita adalah menahan diri untuk tidak membalas berbuat yang tidak baik pula. Sebenarnya kalo direnungkan, membalas itu tidak ada gunanya. An eye for an eye, and there will always be another eye and another eye. Atau dengan kata lain, tidak akan ada ujungnya. "Dan (bagi) orang-orang yang apabila mereka diperlakukan dengan zalim mereka membela diri. Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim (QS. 42: 39-40) Semoga Allah SWT mempermudah jalan kita.

Wednesday, 26 February 2014

Late Post

Beberapa tulisan late post, karena buka-buka laptop dan ketemu tulisan-tulisan waktu Aslam masih belum jalan, sebagian waktu masih belum ngomong. Sekarang ibunya jadi PPDS, ayahnya wirausaha untuk menemani Aslam dan ibunya, Aslam juga sudah sekolah playgroup, sudah sekolah tanpa ditunggui dan insya Alloh naik TK bulan Juli besok. Selamat menikmati :)

Wanita dan Bulan Ramadhan

Ngambil-ambil, 4 Agustus 2011, 22.13 Ramadhan tahun ini Aslam sudah berusia 1 tahun. Masih menetek, tetapi sudah makan macam-macam walaupun masih agak terbatas. Tahun ini Alhamdulillah saya mulai bisa menjalankan ibadah puasa lagi. Rasanya memang berbeda menjalankan puasa waktu belum punya anak, punya anak usia 2 bulan, kemudian punya anak berusia 1 tahun. Pengalaman yang berbeda. Waktu belum punya anak, rasanya biasa saja, bisa leluasa menjalankan rutinitas ramadhan seperti tarawih bersama, subuh berjamaah di masjid, dan puasa seperti biasa. Tidak ada yang istimewa seperti tahun-tahun sebelumnya. Ramadhan tahun lalu, Aslam baru berusia kurang lebih 1,5 bulan. Waktu itu saya masih dalam keadaan nifas, tentunya saya tidak puasa. Pada hari ke 14 ramadhan, saya sudah bersih dari nifas. Dan masih menyusui tentunya. Tahun lalu rasanya ramadhan seperti bukan ramadhan, karena saya sama sekali tidak berpuasa. Rasanya masih repot sekali. Untuk tarawih saja harus curi-curi waktu pas Aslam tidur. Tadarrus, waktu itu entah saya sempat mengaji atau tidak. Malam hari masih harus bangun tiap 1-2 jam sekali karena Aslam pipis maupun mau menetek. Cape sekali waktu itu. Rasanya tidak punya waktu untuk diri sendiri. Apalagi saya sendiri, Ayahnya Aslam sudah ngantor lagi, walaupun kadang masih di rumah karena dinas di daerah Jawa Tengah. Yah, ramadhan yang tidak seperti ramadhan. Rasanya hampa, iman tidak disiram karena tidak punya kesempatan beribadah dengan leluasa. Alhamdulillah tahun ini, saya masih diberi kesempatan untuk bertemu bulan ramadhan, dalam keadaan yang berbeda lagi, karena Aslam sudah 1 tahun. Walaupun saya belum bisa ikut tarawih berjamaah di masjid, tapi tahun ini saya punya lebih cukup waktu untuk salat tarawih, mengaji, membaca, bahkan masih sempat pula mengetik. Alhamdulillah.. Rasanya waktu menjadi begitu berharga kalau mengingat ramadhan tahun kemarin. Saya juga bisa ikut puasa seperti yang lain. Padahal tadinya saya awang-awangen membayangkan harus puasa sebulan penuh dengan kegiatan sebagai ibu dari seorang Aslam yang begitu aktif di usianya yang menginjak bulan ke 13. Tadinya saya berpikir apa saya masih dapat keringanan sebagai ibu menyusui. Tahun kemarin, tadinya saya mau membayar fidyah untuk semua hutang puasa saya tahun lalu karena alasan menyusui. Tetapi kemudian kebetulan saya mendengar acara pengajian MTA bahwa fidyah adalah ganti puasa untuk ibu menyusui, sedangkan hutang puasa karena nifas adalah mengqadha puasa. Saya sempat mencari di buku fikih wanita. Akhirnya setelah berdiskusi dengan ayahnya Aslam, saya memutuskan untuk membayar fidyah hanya waktu saya menyusui tetapi sudah tidak nifas, artinya hutang puasa yang harus saya qadha tahun lalu karena nifas adalah 13 hari. Banyaknyaaa.. Saya lupa mulai mengqadha hutang puasa saya saat Aslam usia berapa, tetapi yang jelas dia sudah makan atau sudah keluar dari masa ASI eksklusif. Rasanya memang berat, tadinya saya sudah mau mutung, takut tidak kuat. Alhamdulillah sebelum puasa ramadhan tahun ini, hutang saya yang 13 itu sudah lunas. Menurut saya, rasa berat menjalankan puasa (waktu saya mengqadha) adalah karena sugesti saja. Nyatanya saya bisa. Dan saya memang harus memotivasi diri saya sendiri bahwa saya mampu. Kalau menurut saya, menyusui apalagi anak sudah makan, tidak terasa lebih berat karena berpuasa. Saat puasa saja, saya bisa memerah ASI sama atau bahkan lebih banyak dibandingkan saat puasa. Biasanya kalau jaga, sekali perah saya cuma dapat 40 cc, walaupun kadang sampai 70 cc. Waktu puasa kemarin, saya dapat 70 cc. Alhamdulillah. Artinya, tidak ada masalah menyusui saat puasa. Aslam tetap menyusu seperti biasa, tidak terganggu, tetap tidur siang 1,5-2 jam. Yang menurut saya terasa lebih berat adalah momong anak usia 1 tahun yang sedang aktif-aktifnya main, mbrangkang, tetah, naik turun ke sana kemari. Gendong juga sudah begitu berat. Tetapi yakinlah, kalau kita yakin kita bisa, pasti kita akan mampu. Insyaallah. Tahun ini saya bertekad untuk menjalankan puasa, semoga saya bisa. Insyaallah Allah SWT memberi kemudahan. Ramadhan hanya 1 bulan dalam 1 tahun, manfaatkan dengan sebaik-baiknya yang hanya 30 hari itu. Ramadhan memang mengajarkan kita supaya bisa memanage waktu sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan selagi diberi kesempatan. Insya Allah. Bismillahirrahmanirrahiim..

Laporan Jaga 2014-2002

Solo, 22 Februari 2014 Saya sebenarnya masih sangat marah dan tidak terima tidur saya yang baru sekitar 15 menit terbangun karena ada perawat marah-marah lewat telepon. Saya dimarahi karena dianggap tidak mau mengerjakan konsulan operasi pasien paviliun. Tapi memang bukan hak residen untuk menjawab konsulan paviliun, kecuali atas intruksi konsulen sebelumnya. Jadi, alurnya adalah dari pihak yang mengkonsulkan menelepon terlebih dahulu staf konsulen yang bersangkutan. Kalau residen diminta untuk memeriksa kemudian menjawab, itu baru kami lakukan. Tetapi belum apa-apa kami dimarah-marahi. Sebenernya pasti mereka malas untuk menelepon staf saja, begitu pikir saya waktu itu. Sehingga kami yang dijadikan sasaran kekesalan mereka. Yang saya tidak habis pikir adalah, mengapa saya ditelepon bukan untuk dikonfirmasi alur yang benar, tetapi mengapa langsung marah-marah. Ah sudahlah, syukur Alhamdulillah, saya waktu itu tidak terpancing menjawab dengan marah juga. Bukan saya banget kayanya. Apa mungkin karena saya sedang ngantuk-ngantuknya. Saya sempat konfirmasi ke residen bedah, bukan yang bersangkutan sebenarnya, tetapi yang saya kenal cukup baik. Dia akan menyampaikan ke yang bersangkutan, tapi tetap membela diri karena stressor dari seniornya. Saya agak gak trima sebenarnya, apa posisi kami tidak sama? Bagaimana kalo konsulen saya tidak berkenan kalau kami mengerjakan pasien beliau tanpa instruksi dari beliau, apa itu namanya tidak melangkahi? Kami juga residen. Dan yang membuat saya tidak habis pikir lagi, pasien dikonsulkan dengan diagnosis yang seharusnya tidak dikonsulkan cito. Close fracture itu setau saya elektif. Jadi saya dibangunkan dari tidur yang baru 15 menit dalam 24 jam terbangun untuk dimarah-marahi karena hal yang sifatnya bukan cito. Oh nooo, dimana etika? Dimana? Kami juga manusia biasa.

Monday, 13 February 2012

Tanggung Jawab Sosial

Dengan maraknya jejaring sosial yg ada saat ini, semua orang menjadi lebih bebas berekspresi. Kadang-kadang saya merasa agak kebablasan. Mungkin memang itu spontan. Tetapi sebagai orang yang membaca, orang lain, dalam hal ini saya mungkin lebih bisa menilai kepatutannya untuk ditulis di forum terbuka yang bisa dibaca banyak orang. Tidak jarang saya membaca tulisan yang sifatnya agak tidak patut dibaca orang lain, karena isinya curhat tentang suami yg sepertinya lebih bagus kalo disampaikan langsung pada orang yang bersangkutan ketimbang dibaca orang banyak. Malu kan urusan rumah tangga jadi ketauan orang banyak. Atau mungkin kritik atau masukan ke orang tertentu, kadang malah tidak disampaikan secara langsung, tetapi malah ditulis lewat jejaring sosial yang notabene tidak tersampaikan ke orang yang bersangkutan. Ataupun kalau tersampaikan melalui orang lain, malah bisa terjadi kesalahpahaman satu sama lain. Contoh lain lagi, aib suami, saya ingat suatu saat saya pernah membaca status seorang teman yang tidak bisa tidur karena suami mendengkur. Bukan sesuatu yang besar. Tetapi aib suami kan harusnya kita tutupi. Ada lagi yang komentar atau statusnya agak rusuh (mesum) kalo orang jawa bilang. Walaupun hanya bermaksud untuk guyonan, tetapi saya yang membaca jadi merasa agak jijik dg orang yg menulis. Kadang sebenarnya hanya tersirat saja, tetapi tulisan itu menimbulkan penafsiran ke arah yang rusuh juga. Menurut saya, sama saja. Sempat terpikir jangan2 orang itu pernah berpikiran kotor ttg diri saya. Nauzubillah. Pernahkah terpikir bahwa apa yg mereka tulis itu nantinya mungkin terbaca oleh anak2 kita, apalagi jika yg menulis statusnya akan atau sudah punya anak.. Ayolah beri contoh yang baik untuk anak2 kita. Berkata dan bersikaplah yang santun. Kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita tulis dan kita lakukan. Saya juga bukan orang yang sempurna, hanya saja sebagai manusia kita berkewajiban untuk saling mengingatkan satu sama lain.

Tuesday, 20 December 2011

Selamat Hari Ibu

Opick
Satu Rindu ( Feat Amanda )

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu Oh ibu

Alloh izinkanlah aku
Bahagiakan dia
Meski dia telah jauh
Biarkanlah aku
Berarti untuk dirinya
oh ibu oh ibu kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu

Terbayang satu wajah
Penuh cinta penuh kasih
Terbayang satu wajah
Penuh dengan kehangatan
Kau ibu oh ibu kau ibu
oh ibu oh ibu

Hujan teringatkan aku
Tentang satu rindu
Dimasa yang lalu
Saat mimpi masih indah bersamamu
Kau ibu kau ibu kau ibu

Lagu itu terdengar begitu mengharukan. Saat mendengarkan lagu itu, rasanya mata ini menjadi basah. Saat membicarakan ibu kita, terbayang sesosok wanita yang begitu hebat. Rasanya tidak satupun anak yang menyangkal bahwa ibu masing-masing begitu hebat. Bagaimana tidak, ibu saya misalnya. Beliau yang mengandung dan kemudian melahirkan kami bertujuh. Kemudian merawat kami bertujuh sampai dewasa. Bahkan setelah kami punya anak pun masih membantu kami merawat cucu.

Saya yang baru hamil dan melahirkan satu kali saja sudah merasa begitu kepayahan dan kesakitan. Menjaga seorang anak juga ternyata bukan pekerjaan yang tidak melelahkan walaupun sebenarnya begitu menyenangkan.

Sungguh pantas sekali kalau Allah SWT menaikkan derajatnya.

Ibu saya yang ibu rumah tangga selalu membuat saya takjub karena kalau melihatnya seperti tidak kenal lelah. Tiap saya bangun subuh, saya sudah mendengar suara kompor dihidupkan. Semoga Allah SWT selalu memberinya kesehatan.